Telkom Indonesia Pisahkan Aset Rp85,7 Triliun ke InfraNexia, Kenapa dan Apa Dampaknya?

Telkom Indonesia pisahkan aset infrastruktur jaringan dalam skala sangat besar. PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk atau TLKM mengonsolidasikan lebih dari 90 persen aset infrastruktur jaringannya ke PT Telkom Infrastruktur Indonesia atau InfraNexia.

Nilainya tidak kecil. Total transaksi dari proses pemisahan atau spin-off tersebut mencapai sekitar Rp85,7 triliun, dengan jaringan yang dikelola InfraNexia mencapai sekitar 112.000 kilometer fiber optik, termasuk sekitar 26.000 kilometer Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL) domestik.

Bagi PUBLIKAPITAL, angka Rp85,7 triliun tentu menjadi perhatian. Namun, ada hal yang lebih penting untuk dipahami: Telkom tidak sekadar memindahkan aset bernilai puluhan triliun rupiah.

Langkah tersebut menjadi bagian dari transformasi besar Telkom melalui strategi TLKM 30. Telkom ingin membuat aset infrastrukturnya lebih produktif, meningkatkan utilisasi jaringan, memperbesar pendapatan dari pelanggan eksternal, serta menjadikan InfraNexia sebagai salah satu mesin pertumbuhan baru.

Lantas, mengapa Telkom Indonesia pisahkan aset jaringan dalam jumlah sebesar itu? Apakah aset tersebut dijual? Dan bagaimana dampaknya terhadap bisnis serta saham TLKM?

Telkom Indonesia Pisahkan Aset Rp85,7 Triliun ke InfraNexia

Telkom memperoleh persetujuan pemegang saham independen atas pemisahan aset dan bisnis wholesale fiber connectivity ke InfraNexia melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 30 September 2026.

Melalui proses tersebut, lebih dari 90 persen aset infrastruktur jaringan yang sebelumnya berada di bawah Telkom dikonsolidasikan ke InfraNexia.

InfraNexia sendiri bukan perusahaan asing yang datang membeli jaringan Telkom. Perusahaan ini merupakan operating company Telkom yang difokuskan pada bisnis infrastruktur digital.

Dengan struktur tersebut, InfraNexia mendapatkan skala bisnis yang jauh lebih besar dan diharapkan mampu mengelola infrastruktur secara lebih fokus dibandingkan ketika aset tersebut berada langsung di Telkom.

Pemisahan ini juga berkaitan dengan transformasi Telkom dari Operating Holding menuju Strategic Holding, dengan kegiatan operasional tertentu semakin difokuskan kepada operating company masing-masing.

Kenapa Ada Angka Rp49,9 Triliun dan Rp85,7 Triliun?

Salah satu hal yang berpotensi membingungkan pembaca adalah munculnya dua angka berbeda dalam pemberitaan mengenai spin-off InfraNexia.

Ada yang menyebut Rp49,9 triliun, sementara pemberitaan lainnya menggunakan angka Rp85,7 triliun.

Keduanya memiliki konteks yang berbeda.

Proses pemisahan dilakukan secara bertahap.

Pada Tahap I, bisnis dan aset wholesale fiber connectivity yang dialihkan bernilai sekitar Rp35,8 triliun.

Kemudian dilakukan Tahap II dengan nilai sekitar Rp49,9 triliun.

Jika dijumlahkan:

Rp35,8 triliun + Rp49,9 triliun = Rp85,7 triliun.

Dengan demikian, Rp49,9 triliun merujuk pada nilai transaksi Tahap II, sementara Rp85,7 triliun merupakan total nilai pengalihan aset dan bisnis setelah kedua tahapan tersebut.

Perbedaan konteks ini penting dipahami agar pembaca tidak menganggap terdapat ketidaksesuaian data mengenai nilai aset Telkom yang dipisahkan.

Aset Apa yang Dipisahkan Telkom Indonesia?

Skala aset yang kini berada di bawah pengelolaan InfraNexia sangat besar.

Aset tersebut mencakup infrastruktur jaringan dari akses menuju pelanggan hingga core backbone beserta berbagai infrastruktur pendukung.

Secara keseluruhan, InfraNexia mengelola sekitar 112.000 kilometer jaringan fiber optik.

Dari jumlah tersebut, sekitar 26.000 kilometer merupakan Sistem Komunikasi Kabel Laut domestik.

Jika panjang keseluruhan jaringan fiber tersebut dibandingkan dengan keliling Bumi yang sekitar 40.000 kilometer, skalanya hampir setara tiga kali keliling Bumi.

Jaringan itu kemudian didukung struktur operasional yang mencakup empat area, 12 regional, dan 61 distrik di berbagai wilayah Indonesia.

Skala tersebut membuat InfraNexia mempunyai fondasi besar untuk mengembangkan bisnis infrastruktur digital secara nasional.

TELKOM-INDONESIA-PISAHKAN-ASET-2026

Apakah Telkom Menjual Aset Rp85,7 Triliun?

Ini menjadi salah satu pertanyaan penting ketika membaca berita Telkom Indonesia pisahkan aset Rp85,7 triliun.

Jawabannya: langkah tersebut jangan disamakan dengan Telkom menjual aset senilai Rp85,7 triliun kepada perusahaan eksternal.

Aset dan bisnis tersebut dialihkan ke InfraNexia yang berada dalam TelkomGroup.

Pada penyelesaian spin-off fase pertama, kepemilikan efektif Telkom terhadap InfraNexia bahkan tercatat sekitar 99,9999997 persen.

Dengan kata lain, yang berubah terutama adalah entitas yang mengelola aset tersebut.

Karena itu pula, angka Rp85,7 triliun jangan langsung dianggap sebagai pendapatan baru atau uang tunai Rp85,7 triliun yang masuk ke Telkom.

Nilai ekonominya bagi Telkom ke depan lebih bergantung pada seberapa efektif InfraNexia mampu mengelola dan memonetisasi aset tersebut.

Kenapa Telkom Indonesia Memisahkan Aset?

Ada beberapa alasan strategis di balik keputusan tersebut.

Salah satunya adalah agenda Unlock Value dalam strategi transformasi TLKM 30.

Telkom mempunyai jaringan infrastruktur dalam skala sangat besar. Tantangannya bukan hanya terus menambah jaringan, tetapi bagaimana aset yang sudah tersedia dapat dimanfaatkan secara maksimal.

Dengan menempatkan bisnis infrastruktur di bawah entitas yang lebih fokus, InfraNexia diharapkan dapat meningkatkan utilisasi aset, memperluas kerja sama, meningkatkan infrastructure sharing dan mendapatkan lebih banyak pelanggan di luar TelkomGroup.

Secara sederhana, aset jaringan yang sebelumnya terutama menjadi bagian dari operasional Telkom ingin dikembangkan menjadi bisnis infrastruktur yang mampu menghasilkan pendapatan secara lebih agresif.

Di sinilah konsep unlocking value menjadi penting.

Telkom mencoba membuka nilai ekonomi yang mungkin belum sepenuhnya tercermin dari aset infrastruktur tersebut.

Apa Itu InfraNexia?

InfraNexia adalah nama bisnis dari PT Telkom Infrastruktur Indonesia yang diposisikan sebagai operating company untuk infrastruktur digital TelkomGroup.

Perusahaan ini difokuskan menjadi penyedia infrastruktur berbasis wholesale.

Artinya, InfraNexia tidak hanya menyediakan infrastruktur untuk perusahaan-perusahaan di dalam TelkomGroup.

Pasar eksternal juga menjadi sasaran.

Pelanggan potensialnya meliputi operator telekomunikasi, Internet Service Provider atau ISP, perusahaan cloud, data center hingga berbagai industri yang membutuhkan konektivitas berkapasitas besar.

Model tersebut dapat menciptakan hubungan yang saling menguntungkan.

Perusahaan lain tidak selalu harus membangun seluruh jaringan fiber dari awal, sedangkan InfraNexia memperoleh kesempatan meningkatkan utilisasi dan monetisasi infrastruktur yang sudah dimilikinya.

InfraNexia Bisa Menjadi Mesin Pertumbuhan Baru Telkom

Inilah bagian yang menurut PUBLIKAPITAL menarik untuk diperhatikan.

InfraNexia tidak dirancang sekadar menjadi tempat untuk menampung aset jaringan Telkom.

Perusahaan ini justru diproyeksikan menjadi salah satu mesin pertumbuhan baru TelkomGroup.

Semakin banyak kapasitas jaringan yang dapat dimanfaatkan pelanggan eksternal, semakin besar peluang InfraNexia menghasilkan pendapatan dari aset yang sebelumnya sudah dibangun.

Strategi tersebut juga berpotensi menciptakan recurring revenue dari layanan konektivitas wholesale.

Namun, keberhasilannya tentu tidak cukup diukur berdasarkan besarnya aset yang dikelola.

Investor perlu melihat apakah aset Rp85,7 triliun tersebut benar-benar mampu menghasilkan return yang lebih baik.

Kinerja InfraNexia Mulai Menunjukkan Pertumbuhan

Data semester I 2026 memberikan gambaran awal yang menarik.

InfraNexia membukukan pendapatan sekitar Rp7,7 triliun dengan margin EBITDA 54,5 persen.

Lebih menarik lagi, pendapatan yang berasal dari pelanggan eksternal mencapai sekitar Rp939 miliar, meningkat 31 persen secara tahunan atau year-on-year.

Sementara bisnis Wholesale Network mencatat pertumbuhan pendapatan sekitar 12,7 persen secara tahunan.

Pertumbuhan pelanggan eksternal menjadi indikator penting.

Mengapa?

Karena salah satu tujuan utama restrukturisasi adalah membuat infrastruktur Telkom mampu menghasilkan pendapatan lebih besar dari luar ekosistem internal TelkomGroup.

Jika tren tersebut terus meningkat, utilisasi jaringan berpotensi membaik dan aset yang sangat besar tadi dapat memberikan produktivitas lebih tinggi.

Telkom Berubah dari Operating Holding Menjadi Strategic Holding

Spin-off InfraNexia juga harus dilihat dalam konteks transformasi Telkom yang lebih besar.

Telkom bergerak dari model:

Operating Holding → Strategic Holding.

Dalam struktur tersebut, Telkom sebagai holding dapat lebih berfokus pada strategi, pengelolaan portofolio, alokasi modal, tata kelola serta penciptaan sinergi.

Sementara itu, kegiatan operasional dijalankan oleh operating company yang mempunyai fokus bisnis masing-masing.

InfraNexia menjadi salah satunya untuk segmen B2B Infrastructure.

Model seperti ini diharapkan membuat masing-masing bisnis mempunyai fokus, akuntabilitas dan fleksibilitas yang lebih baik untuk berkembang.

InfraNexia Bidik Infrastruktur AI, Cloud dan Data Center

Ada satu peluang lain yang tidak boleh dilewatkan, yakni pertumbuhan kebutuhan infrastruktur digital akibat perkembangan AI.

Artificial intelligence membutuhkan kemampuan komputasi sangat besar.

Komputasi tersebut membutuhkan data center. Data center kemudian membutuhkan konektivitas berkapasitas tinggi agar data dapat bergerak dengan cepat dan stabil.

InfraNexia ingin mengembangkan jaringan nasional sebagai AI Ready Infrastructure yang terbuka, terintegrasi dan scalable.

Dengan jaringan fiber sekitar 112.000 kilometer, perusahaan memiliki aset yang berpotensi menopang pertumbuhan AI, cloud computing, data center dan berbagai layanan digital lainnya.

InfraNexia juga mendorong modernisasi jaringan melalui otomasi, integrasi sistem dan pengembangan autonomous network.

Apa Dampak Pemisahan Aset Ini bagi Bisnis Telkom?

Secara strategis, terdapat beberapa potensi manfaat.

Pertama, aset infrastruktur dapat dikelola oleh perusahaan yang mempunyai fokus khusus.

Kedua, utilisasi jaringan berpeluang meningkat melalui bertambahnya pelanggan eksternal.

Ketiga, Telkom dapat memperluas infrastructure sharing dan kemitraan dengan perusahaan lain.

Keempat, struktur bisnis yang lebih fokus berpotensi meningkatkan efisiensi.

Kelima, InfraNexia dapat membuka sumber pertumbuhan baru melalui bisnis wholesale connectivity.

Namun, semua potensi tersebut tetap harus dibuktikan melalui kinerja.

Memiliki aset Rp85,7 triliun tidak otomatis menjamin bisnis akan menghasilkan keuntungan lebih tinggi.

InfraNexia tetap harus meningkatkan utilisasi, memperoleh pelanggan baru, mempertahankan margin, meningkatkan efisiensi dan menghasilkan return yang sebanding dengan aset yang dikelola.

Bagaimana Dampaknya terhadap Saham TLKM?

Bagi investor, keputusan Telkom Indonesia pisahkan aset sebaiknya tidak langsung diterjemahkan sebagai sinyal saham TLKM pasti naik atau turun.

Yang lebih penting adalah hasil dari restrukturisasi tersebut.

Ada beberapa indikator yang layak dipantau investor dalam beberapa periode mendatang, yakni pertumbuhan pendapatan InfraNexia, kontribusi pelanggan eksternal, margin EBITDA, tingkat utilisasi jaringan, efisiensi operasional dan return atas aset.

Pertumbuhan pendapatan eksternal sebesar 31 persen YoY menjadi salah satu indikator awal yang menarik.

Namun, investor tetap perlu melihat konsistensinya dalam jangka lebih panjang.

Jika InfraNexia berhasil meningkatkan monetisasi jaringan sekaligus mempertahankan profitabilitas, strategi unlock value Telkom dapat semakin terlihat hasilnya.

Sebaliknya, jika aset yang sangat besar tersebut tidak menghasilkan peningkatan utilisasi dan return yang memadai, tujuan restrukturisasi tentunya perlu dievaluasi.

Karena itu, investor TLKM sebaiknya tidak hanya terpaku pada angka fantastis Rp85,7 triliun.

TELKOM-INDONESIA-PISAHKAN-ASET

Perhatikan apa yang terjadi setelah aset tersebut dipindahkan dan bagaimana aset itu menghasilkan uang.

Keputusan Telkom Indonesia memisahkan aset jaringan senilai sekitar Rp85,7 triliun ke InfraNexia merupakan salah satu langkah besar dalam transformasi TelkomGroup.

Total tersebut berasal dari dua tahapan, yakni sekitar Rp35,8 triliun pada Tahap I dan Rp49,9 triliun pada Tahap II.

Setelah konsolidasi, InfraNexia mengelola lebih dari 90 persen aset infrastruktur jaringan Telkom dengan sekitar 112.000 kilometer jaringan fiber optik, termasuk 26.000 kilometer kabel laut domestik.

Yang perlu digarisbawahi, aksi ini bukan berarti Telkom menjual aset Rp85,7 triliun kepada perusahaan eksternal.

InfraNexia tetap berada di bawah kendali Telkom.

Cerita besarnya justru berada pada strategi unlocking value.

Telkom ingin membuat aset infrastrukturnya lebih produktif, memperbesar utilisasi, memperluas pelanggan eksternal, meningkatkan efisiensi serta membuka peluang pertumbuhan dari kebutuhan konektivitas AI, cloud dan data center.

Bagi investor TLKM, pertanyaan terpenting selanjutnya bukan lagi “berapa nilai aset yang dipisahkan?”, melainkan seberapa besar pendapatan dan keuntungan yang mampu dihasilkan InfraNexia dari aset tersebut?

Jawaban atas pertanyaan itulah yang nantinya akan menentukan apakah spin-off InfraNexia benar-benar berhasil menjadi mesin pertumbuhan baru TelkomGroup.

Demikian pembahasan PUBLIKAPITAL mengenai langkah Telkom Indonesia memisahkan aset infrastruktur ke InfraNexia. Semoga pembahasan ini membantu Anda memahami aksi korporasi TLKM secara lebih utuh dan tidak hanya berdasarkan angka besar yang muncul dalam headline.

Salam,

PUBLIKAPITAL

Leave a Comment